Sawah Lebak

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Pembangunan pertanian dapat didefinisikan sebagai suatu proses perubahan sosial. Implementasinya tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan status dan kesejahteraan petani semata, tetapi sekaligus juga dimaksudkan untuk mengembangkan potensi sumberdaya manusia baik secara ekonomi, sosial, politik, budaya, lingkungan, maupun melalui perbaikan (improvement), pertumbuhan (growth) dan perubahan (change).

Dalam literatur klasik pembangunan pertanian karya Arthur Mosher yang berjudul “Getting Agriculture Moving” dijelaskan secara sederhana dan gambling tentang syarat pokok dan syarat pelancar dalam pembangunan pertanian. Syarat pokok pembangunan pertanian meliputi: (1) adanya pasar untuk hasil-hasil usahatani, (2) teknologi yang senantiasa berkembang, (3) tersedianya bahan-bahan dan alat-alat produksi secara lokal, (3) adanya perangsang produksi bagi petani, dan (5) tersedianya pengangkutan yang lancar dan kontinyu. Adapun syarat pelancar pembangunan pertanian meliputi: (1) pendidikan pembangunan, (2) kredit produksi, (3) kegiatan gotong royong petani, (4) perbaikan dan perluasan tanah pertanian, dan (5) perencanaan nasional pembangunan pertanian. Beberapa Negara berkembang, termasuk Indonesia, mengikuti saran dan langkah kebijakan yang disarankan oleh Mosher.

Pembangunan pertanian di Indonesia dilaksanakan secara terencana dimulai sejak Repelita I (1 April 1969), yaitu pada masa pemerintahan Orde Baru, yang tertuang dalam strategi besar pembangunan nasional berupa Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang (PU-PJP) yaitu PU-PJP I (1969-1994) dan PU-PJP II (1994-2019). Dalam PU-PJP I, pembangunan dilaksanakan melalui lima serangkaian Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) yang semuanya dititik beratkan pada sektor pertanian sebagai berikut:

1. Repelita I: titik berat pada sektor pertanian dan industri pendukung sector pertanian.

2. Repelita II: titik berat pada sektor pertanian dengan meningkatkan industry pengolah bahan mentah menjadi bahan baku.

3. Repelita III: titik berat pada sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri pengolah bahan baku menjadi bahan jadi.

4. Repelita IV: titik berat pada sektor pertanian untuk melanjutkan usaha menuju swasembada pangan dengan meningkatkan industri penghasil mesin-mesin.

5. Repelita V: melanjutkan Repelita IV.

Memasuki era globalisasi yang dicirikan oleh persaingan perdagangan internasional yang sangat ketat dan bebas, pembangunan pertanian semakin dideregulasi melalui pengurangan subsidi, dukungan harga dan berbagai proteksi lainnya. Kemampuan bersaing melalui proses produksi yang efisien merupakan pijakan utama bagi kelangsungan hidup usahatani. Sehubungan dengan hal tersebut, maka partisipasi dan kemampuan wirausaha petani merupakan faktor kunci keberhasilan pembangunan pertanian.

Sawah Lebak adalah sawah rendahan yang tergenang secara periodik sekurang-kurangnya tiga sampai enam bulan secara kumulatif dalam setahun, dan dapat kering atau lembab tiga bulan secara komulatif dalam setahun. Lahan lebak yang berpotensi sebagai sawah lebak banyak dijumpai di seluruh nusantara tersebar di pulau sumatera dan Kalimatan yang mempunyai banyak sungai dan berpeluang baik.

Berdasarkan jenisnya, sawah lebak termasuk dalam sumberdaya alam hayati (biotik). Berdasarkan sifat/kelestariannya, sawah lebak termasuk dalam sumberdaya alam terbaharukan (renewable resources). Sedangkan berdasarkan tempatnya, sawah lebak tergolong sumberdaya alam di darat. Adapun berdasarkan potensi penggunaannya, sawah lebak termasuk sumberdaya ruang.

Penggunaan pertumbuhan PDB sebagai  insikator kesejahteraan makro hasilnya tidak sejalan dengan penggunaan pangsa pengeluaran pangan sebagai indikator mikro untuk melihat tingkat kesejahteraan. Secara makro, pangsa PDB pertanian yang relatif kecil masih menanggung beban menyerap angkatan kerja dalam pangsa yang relatif besar sehingga produktivitasnya menjadi rendah.  Secara mikro kondisi ini terlihat secara konsisten bahwa rumah tangga nonpertanian lebih sejahtera dibandingkan rumah tangga pertanian baik di desa maupun di kota, serta pada kelompok dengan pendapatan yang sama.

Rumah tangga nonpertanian baik di kota maupun di desa serta pada berbagai kelas pendapatan lebih sensitif terhadap guncangan ekonomi dibandingkan rumah tangga pertanian. Selain memiliki akses ekonomi, akses fisik, dan akses informasi terhadap pangan, factor budaya juga menentukan prilaku konsumsi yang mempengaruhi sensitivitas rumah tangga terhadap guncangan ekonomi.

Pemerataan pembangunan tidak hanya akan meningkatkan kesejahteraan penduduk diberbagai lapisan, tetapi dapat juga mengurangi permasalahan social dan politik akibat meningkatnya migrasi ke kota besar di Jawa dan Bali, serta meningkatnya ketahanan pangan melalui peningkatan produksi pangan untuk meningkatkan pendapatan penduduk pedesaan.

 

B. Permasalahan

  1. Apa yang dimaksud dengan sawah itu sendiri ?
  2. Apa yang dimaksud dengan sawah lebak ?
  3. Apa hubungan serta perangan sawah lebak dalam pembangunan pertanian?
  4. Bagaimana pengembangan swah lebak dalam pembangunan pertanian ?

 

C. Tujuan

Untuk mengetahui tentang sawah, terutama sawah lebak dalam pembangunan pertanian dewasa ini.

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Sawah

Sawah adalah lahan usaha pertanian yang secara fisik berpermukaan rata, dibatasi oleh pematang, serta dapat ditanami padi, palawija atau tanaman budidaya lainnya. Kebanyakan sawah digunakan untuk bercocok tanam padi. Untuk keperluan ini, sawah harus mampu menyangga genangan air karena padi memerlukan penggenangan pada periode tertentu dalam pertumbuhannya. Untuk mengairi sawah digunakan sistem irigasi dari mata air, sungai atau air hujan. Sawah yang terakhir dikenal sebagai sawah tadah hujan, sementara yang lainnya adalah sawah irigasi. Padi yang ditanam di sawah dikenal sebagai padi lahan basah (lowland rice). Pembagian Tanah Sawah:

1). Lahan basah Sawah

Lahan sawah adalah tanah yang dapat digenangi air dan mempertahankannya, dapat diratakan dan dibatasi dengan pematang contoohnya adalah Sawah berigasi (teknis, setengah teknis) dan Sawah tadah hujan.
Tindakan yg sangat penting dalam pengolahan tanah sawah adalah: pelumpuran (Proses terurainya agregat-agregat tanah menjadi partikel-partikel tanah yang lebih kecil dan seragam, yang terjadi akibat adanya tenaga mekanis pada tanah yang mempunyai kandungan air tanah yang tinggi).

a) Gogo Rancah

Lahan sawah yang bergantung kepada curah hujan, dimana pada awalnya padi diusahakan secara gogo (kering) atau sedikit air, kemudian setelah hujan turun dikelola dengan sistem sawah biasa.

b) Sistem Surjan

Lahan yg diusahakan dengan membuat guludan/ pematang yang cukup luas (lebar 1-3 m) pada bagian atas yang ditanami palawija/sayuran dan tabukan/ legokan pada bagian bawah yang ditanami padi sawah.

c) Lebak

Disebut juga rawa lebak: umumnya di dataran rendah di sekitar sungai yang terjadi karena luapan air sungai dan air hujan. Terjadi secara periodik yakni selama musim penghujan.

d) Pasang Surut

Lahan yang terbentuk oleh naik turunnya permukaan air sungai akibat terjadinya pasang naik dan surut di laut tempat sungai tersebut bermuara Tipe A, Tipe B, Tipe C, & Tipe D. Untuk lahan basah khususnya sawah perlu dilakukan pelumpuran dan pembuatan pematang, dengan tujuan:

• Pelumpuran (pudddling) untuk membentuk lapisan kedap air (lapisan bajak)
• Pematang dapat menjaga air tetap tersedia di areal persawahan tanah berlumpur tetap dalam keadaan reduktif, sekalipun tanpa digenangi sampai tanah mongering
2. Lahan Kering

Lahan yang tidak jehuh air sepanjang tahun.Untuk lahan kering umumnya diperlukan bedengan, dengan tujuan:

• Memperbaiki drainase bagi tanaman yang tidak tahan genangan

• Mendapatkan lapisan tanah atas yang lebih dalam

• Memperbaiki pengumbian pada akar lateral agar menuju ke arah bawah

• Menghindarkan serangan soil born disease

B. Sawah Lebak

a.  Tipologi Lahan Lebak

Lahan rawa lebak adalah lahan yang pada periode tertentu (minimal satu bulan) tergenang air dan rejim airnya dipengaruhi oleh hujan, baik yang turun setempat maupun di daerah sekitarnya.

Berdasarkan tinggi dan lama genangan airnya, lahan rawa lebak dikelompokkan menjadi 3, yaitu :

1)      Lahan lebak dangkal adalah lahan lebak yang tinggi genangan airnya kurang dari 50 cm selama kurang dari 3 bulan.

2)      Lahan lebak tengahan adalah lahan lebak yang tinggi genangan airnya 50-100 cm selama 3-6 bulan.

3)      Lahan lebak dalam adalah lahan lebak yang tinggi genangan airnya lebih dari 100 cm selama lebih dari 6 bulan.

Lahan lebak dangkal umumnya mempunyai kesuburan tanah yang lebih baik, karena adanya pengkayaan dari endapan lumpur yang terbawa luapan air sungai. Lahan lebak tengahan mempunyai genangan air yang lebih dalam dan lebih lama daripada lebak dangkal, sehingga waktu surutnya air juga lebih belakangan. Oleh karena itu, masa pertanaman padi pada wilayah ini lebih belakang daripada lebak dangkal. Lahan lebak dalam letaknya lebih dalam yang pada musim kemarau dengan iklim normal umumnya masih tergenang air dan ditumbuhi oleh beragam gulma terutama jenis Paspalidium, sehingga wilayah ini merupakan reservoir air dan sumber bibit ikan perairan bebas. Lahan ini umumnya jarang digunakan untuk usaha tanaman, kecuali pada areal yang periode tidak tergenang airnya lebih dari 2 bulan atau bila terjadi kemarau panjang.

b.  Jenis Tanah dan Karakteristiknya

Jenis tanah yang umum dijumpai di lahan lebak adalah tanah mineral dan gambut. Tanah mineral bisa berasal dari endapan sungai atau bisa berasal dari endapan marin, sedangkan tanah gambut di lapangan bisa berupa lapisan gambut utuh atau lapisan gambut berselang seling dengan lapisan tanah mineral. Tanah mineral memiliki tekstur liat dengan tingkat kesuburan alami sedang – tinggi dan pH 4 – 5 serta drainase terhambat – sedang. Setiap tahun, lahan lebak umumnya mendapat endapan lumpur dari daerah di atasnya, sehingga walaupun kesuburan tanahnya umumnya tergolong sedang, tetapi keragamannya sangat tinggi antar wilayah atau antar lokasi.

Lahan gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah gambut, yaitu tanah yang terbentuk dari bahan organik atau sisa-sisa pepohonan, yang dapat berupa bahan jenuh air dengan kandungan karbon organik sebanyak 12-18% atau bahan tidak jenuh air dengan kandungan karbon organik sebanyak 20%. Tanah gambut biasanya memiliki tingkat kemasaman yang tinggi karena adanya asam-asam organik, mengandung zat beracun H2S, ketersediaan unsure hara makro dan mikro terutama P, K, Zn, Cu dan Bo yang rendah, serta daya sangga tanah yang rendah. Lahan gambut dengan karakteristik tanah yang demikian memerlukan teknologi pengelolaan dan pemilihan jenis tanaman atau varietas tertentu agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan memberikan hasil yang memadai.

 

C. Sawah Lebak dalam Pembangunan Pertanian

Lahan rawa lebak terdapat cukup luas di Indonesia, merupakan salah satu alternatif areal yang dapat dikembangkan untuk mengatasi kebutuhan pangan yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya alih fungsi lahan setiap tahun.

Lahan rawa semakin penting peranannya dalam upaya mempertahankan swasembada beras dan mencapai swasembada bahan pangan lainnya, mengingat semakin menciutnya lahan subur di Jawa akibat penggunaannya untuk perumahan dan keperluan non pertanian lainnya.

Lahan lebak yang berpotensi sebagai sawah lebak banyak dijumpai di seluruh nusantara tersebar di pulau sumatera dan Kalimatan yang mempunyai banyak sungai dan berpeluang baik untuk dikembangkan. Lahan lebak tersebut cukup subur bila diolah dan dimanfaatkan dengan baik untuk pengembangan tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perikanan.

Selain itu, beberapa wilayah lahan rawa lebak belakangan ini mulai dikembangkan untuk tanaman perkebunan seperti kelapa sawit dan karet. Pengembangan perkebunan ini memerlukan pembuatan saluran-saluran pengatusan (drainage), pintu-pintu air, dan tabat (dam overflow) untuk pengendalian muka air tanah.

Dengan adanya sawah lebak ini, maka bisa meningkatkan pembangunan pertanian. Contohnya, dengan pemanfaatan penanaman padi dapat memenuhi kebutuhan pangan serta mendapatkan pendapatan.

D. Masalah Pengembangan Sawah Lebak dalam Pembangunan Pertanian

Dalam pembangunan pertanian di Indonesia, ada empat masalah dan tantangan serius yang dihadapi yaitu :

(1) berkurangnya lahan subur untuk usaha pertanian,

(2) meningkatnya kebutuhan hasil pertanian terutama khususnya beras,

(3) melandainya peningkatan produktivitas lahan sawah akibat cekaman lingkungan dan pemanfaatan intensif dimasa lalu,

(4) makin berkurangnya minat generasi muda yang mau bekerja di sektor pertanian.

Namun dilihat dari pengembangan Sawah/Lahan Rawa Lebak itu sendiri, masalah utama pengembangan lahan lebak untuk usaha pertanian adalah kondisi rejim airnya fluktuatif dan seringkali sulit diduga, hidrotopografi lahannya beragam dan umumnya belum ditata baik, kebanjiran pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau terutama di lahan lebak dangkal, dan sebagian lahannya bertanah gambut. Dengan kondisi demikian, maka pengembangan lahan lebak untuk usaha pertanian khususnya tanaman pangan dalam skala luas memerlukan penataan lahan dan jaringan tata air serta penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayahnya agar diperoleh hasil yang optimal.

Selain masalah lahan, pengembangan lahan lebak untuk pertanian juga menghadapi berbagai kendala, diantaranya : kondisi sosial ekonomi masyarakat serta kelembagaan dan prasarana pendukung yang umumnya belum memadai atau bahkan belum ada. Hal ini terutama menyangkut kepemilikan lahan, keterbatasan tenaga dan modal kerja serta kemampuan petani dalam memahami karakteristik dan teknologi pengelolaan lahan lebak, penyediaan sarana produksi, prasarana tata air dan perhubungan serta jalan usahatani, pasca panen dan pemasaran hasil pertanian.

 


BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

  1. Sawah adalah lahan usaha pertanian yang secara fisik berpermukaan rata, dibatasi oleh pematang, serta dapat ditanami padi, palawija atau tanaman budidaya lainnya.
  2. Sawah
  3. Sawah lebak dapat meningkatkan pempangunan pertanian

B. Saran


DAFTAR PUSTAKA

 

aluhlangkar.blogspot.com/2008/08/rawa-lebak

http://agrimaniax.blogspot.com/2010/05/sawah-jenis-jenis-tanah.html

http://balittra.litbang.deptan.go.id/prosiding06/Utama-3.pdf

http://www.damandiri.or.id/file/dwiharyonoipbbab2.pdf

 

http://www.deptan.go.id/renbangtan/konsep_pembangunan_pertanian.pdf

 

http://www.kamusilmiah.com/tag/sawah-lebak/

http://www.nuansamasel.blogspot.com/2010/07/sawah-lebak.html

http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/MP_Pros_A1_2009.pdf

 

www.balitbangdasumsel.net/data/download/20100414130558.pdf

LAMPIRAN

Tanah mineral berpasir

Tanah gambut bersisipan dengan tanah mineral

Tanah gambut utuh

Tentang dini

ingin mewujudkan semua impian; mahasiswi agribisnis 2008; ingin berbagi pengetahuan, dan bertukar pikiran
Pos ini dipublikasikan di pemper, tugas dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s